Integrasi Ai Sekolah: Memperkuat Integrasi AI di Sekolah: Pendampingan Digital untuk Guru SMPN 35 Bekasi

integrasi ai sekolah - ilustrasi berita Integrasi Ai Sekolah: Memperkuat Integrasi AI di Sekolah: Pendampingan Digital…

Percepatan teknologi kecerdasan buatan mengubah praktik pendidikan, namun penerapannya di lingkungan sekolah tidak selalu mulus. Untuk menjembatani kesenjangan antara sarana yang tersedia dan kapasitas pengajar, sebuah tim akademisi merancang pendampingan khusus bagi guru di SMPN 35 Kota Bekasi melalui program Smart-Early Steps.

integrasi ai sekolah - ilustrasi berita Integrasi Ai Sekolah: Memperkuat Integrasi AI di Sekolah: Pendampingan Digital…

Program ini menempatkan integrasi AI sekolah sebagai fokus utama: bukan sekadar penguasaan alat, tetapi juga pembentukan praktik pedagogis yang kontekstual, etis, dan berkelanjutan agar teknologi benar-benar mendukung proses belajar mengajar generasi Alpha.

Integrasi AI Sekolah: Tantangan dan realitas di SMPN 35

SMPN 35 berada di kawasan penyangga ibu kota dengan fasilitas komputer dan koneksi internet yang relatif memadai. Namun pemetaan kebutuhan awal menunjukkan bahwa ketersediaan infrastruktur belum serta merta diterjemahkan menjadi kesiapan pedagogis guru untuk memanfaatkan AI secara efektif. Siswa generasi Alpha menunjukkan kefasihan digital dalam kegiatan sehari-hari, tetapi kecakapan itu belum terarah pada tujuan akademik.

Menurut analisis tim, masalah utama bukan perangkat keras melainkan kemampuan guru dalam merancang pembelajaran yang memanfaatkan kecerdasan buatan secara bijak: dari perencanaan kurikulum personal, fasilitasi interaksi, hingga penilaian berbasis AI. Kondisi inilah yang menjadi alasan pelaksanaan program pendampingan bagi 30 guru di sekolah tersebut.

Pendekatan pelatihan dan ekosistem aplikasi

Alih-alih menerapkan pelatihan satu arah, tim pengabdian menggunakan pendekatan partisipatif yang melibatkan guru mulai dari pemetaan kebutuhan, perancangan modul, praktik mandiri, hingga refleksi dan evaluasi. Empat aplikasi utama dimanfaatkan secara terpadu untuk menciptakan alur kerja yang koheren: Teachy.ai untuk menyusun modul, ChatGPT Plus untuk mengembangkan materi dan rancangan asesmen, Canva Pro AI untuk produksi media visual, serta Wordwall Pro untuk asesmen formatif berbasis permainan.

Pelaksanaan kegiatan membutuhkan koordinasi dengan pihak sekolah. Setelah memperoleh persetujuan manajemen, 30 guru mengikuti pelatihan intens selama lima hari. Selain pelatihan, hibah akses ke aplikasi juga diberikan sehingga guru dapat segera menerapkan metode yang dipelajari. Antusiasme peserta terlihat saat sesi berlangsung dan saat mereka mulai mencoba alat-alat tersebut dalam menyusun perangkat ajar.

Dampak terhadap efisiensi kerja dan kualitas pembelajaran

Penerapan ekosistem aplikasi AI ini menghasilkan perubahan signifikan pada efisiensi penyusunan bahan ajar. Rata-rata waktu yang sebelumnya diperlukan sekitar 14 jam per unit pembelajaran menyusut menjadi sekitar 45 menit setelah guru memanfaatkan alat-alat digital tersebut. Pengurangan waktu ini juga berkontribusi pada penurunan beban administratif hingga sekitar 65 persen.

Dengan berkurangnya tugas rutin, guru dapat memusatkan perhatian pada pendampingan individual, intervensi untuk siswa yang membutuhkan, dan meningkatkan kualitas interaksi antarmanusia di kelas. Evaluasi internal yang merujuk pada kerangka kompetensi guru UNESCO menunjukkan peningkatan skor kompetensi pedagogis digital dari kategori sedang (sekitar 53,25 persen) menjadi kategori tinggi (71 persen) pasca intervensi.

Perkembangan kompetensi dan bukti pelaksanaan

Peningkatan kompetensi meliputi beberapa aspek utama: literasi pedagogis digital yang lebih baik terhadap karakteristik generasi Alpha, kemampuan merekayasa perintah (prompt engineering) untuk menyusun draf RPP, penyusunan materi berdiferensiasi, produksi media digital yang cepat, penyusunan kuis interaktif, serta pemahaman etika AI terkait perlindungan data dan validasi informasi.

Hasil penilaian praktis menunjukkan bahwa 28 dari 30 peserta (93,3 persen) telah mampu secara mandiri menyusun perangkat pembelajaran dan instrumen evaluasi berbasis AI sesuai standar pedagogis. Monitoring lapangan yang dilakukan tim pada tanggal 21 Juli 2026 juga mencatat penerapan teknologi AI dalam pembelajaran oleh lima guru yang menjadi objek pengamatan.

Keberlanjutan: komunitas belajar dan kebijakan sekolah

Keberhasilan awal tidak hanya berakhir pada pelatihan. Untuk memastikan kelangsungan praktik pembelajaran berbasis AI, sekolah membentuk Komunitas Belajar di mana 30 guru yang mengikuti pendampingan berperan sebagai mentor sebaya. Mereka menjalankan peran berbagi pengalaman, memfasilitasi diskusi rutin, dan membantu kolega yang belum mengikuti program.

SMPN 35 juga mengintegrasikan praktik pembelajaran berbasis AI ke dalam panduan operasional internal sekolah, sehingga pemanfaatan teknologi tersebut menjadi bagian dari kebijakan dan budaya mutu sekolah, bukan sekadar inisiatif sementara. Langkah kelembagaan ini diharapkan menjaga kesinambungan transformasi digital di lingkungan sekolah ke depan.

Program Smart-Early Steps yang dipimpin oleh Dr. Khasanah bersama tim yang terdiri dari Dr. Syarifah dan Nurul Fajri, serta didanai oleh Kemendikti Saintek Berdampak 2026, tampil sebagai model intervensi yang menggabungkan aspek teknis dan pedagogis untuk membawa integrasi AI sekolah ke arah yang lebih produktif dan bertanggung jawab.