Perjalanan Sahate pasar global bermula di dapur rumah Lince Sulastri di Kota Bandung pada masa pandemi Covid-19. Saat kesadaran masyarakat terhadap pola makan lebih sehat meningkat, Lince mencoba mengolah beras menjadi camilan yang tetap menggugah selera namun lebih ramah bagi mereka yang menghindari gluten dan gula berlebih.

Awalnya usaha ini berjalan secara rumahan dengan produksi skala kecil. Di tangan Lince, beras diolah menjadi berbagai varian keripik serta kue kering yang diklaim gluten-free, rendah gula, namun tetap gurih dan renyah sehingga mampu menarik konsumen yang mencari alternatif camilan sehat.
Awal usaha dari dapur rumah
Ide Sahate lahir pada 2022 ketika banyak orang mulai berpikir ulang tentang asupan harian mereka. Bermodalkan dapur rumah, peralatan sederhana, dan resep yang terus disempurnakan, Lince mulai memproduksi camilan untuk pasar lokal di Bandung. Produksi awal bersifat rumahan, dengan fokus pada kualitas rasa yang tetap menarik meski komposisi dibuat lebih sehat.
Produk: beras sebagai bahan utama
Sahate mengandalkan beras sebagai bahan dasar produk. Dari bahan itu dikembangkan berbagai jenis keripik dan kue kering yang tidak mengandung gluten, dengan kadar gula yang diminimalkan. Meski demikian, upaya menurunkan gula tidak membuat cita rasa pudar; produk Sahate dirancang tetap gurih dan renyah sehingga mudah diterima konsumen yang menginginkan pilihan lebih sehat tanpa mengorbankan kenikmatan.
Sahate pasar global: Peran BRI dalam perluasan pasar
Seiring usaha yang perlahan berkembang dan mendapatkan penerimaan pasar, Sahate mulai mencari peluang untuk memperluas jangkauan penjualan. Dukungan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) memberi pijakan bagi usaha kecil ini untuk melangkah lebih jauh. Dengan pendampingan dan kerja sama yang terjalin, Sahate mampu menata produksi dan pemasaran sehingga akhirnya membuka peluang menjual produk hingga ke pasar internasional.
Skalabilitas produksi dan standar mutu
Pergeseran dari produksi rumahan ke skala yang lebih besar menuntut penyesuaian dalam hal proses produksi dan pengendalian mutu. Untuk mempertahankan klaim gluten-free dan rendah gula, pengelolaan bahan baku serta proses pengolahan harus dilakukan secara konsisten. Langkah-langkah peningkatan kapasitas produksi dan penerapan standar mutu menjadi bagian dari perjalanan agar produk dapat diterima tidak hanya di pasar domestik tetapi juga oleh konsumen di luar negeri.
Tanggapan konsumen dan perkembangan merek
Respon pasar terhadap Sahate menunjukkan adanya minat terhadap alternatif camilan yang mengutamakan aspek kesehatan. Produk yang dikembangkan menarik perhatian konsumen yang memiliki kebutuhan khusus seperti intoleransi gluten, serta mereka yang sedang mengurangi asupan gula. Popularitas yang tumbuh perlahan membantu memperkuat posisi Sahate sebagai salah satu usaha camilan sehat yang berasal dari dapur rumahan.
Perkembangan merek ini juga membuka peluang bagi pelaku usaha mikro dan kecil lain untuk melihat potensi pengolahan bahan lokal menjadi produk bernilai tambah. Cerita Sahate menggambarkan bagaimana inovasi sederhana, ketika didukung oleh mitra yang tepat, dapat mendorong perluasan pasar hingga mencapai tingkat internasional.
Meskipun awalnya kecil, perjalanan usaha seperti Sahate memperlihatkan transformasi yang mungkin dicapai dari produksi rumahan menjadi merek yang dikenal luas. Dukungan institusi seperti BRI berperan membantu usaha untuk memperbaiki struktur operasional dan membuka akses pasar yang lebih luas, sehingga produk lokal berbasis bahan pokok seperti beras dapat bersaing di tingkat global.
Ke depan, keberlanjutan pertumbuhan Sahate bergantung pada konsistensi kualitas produk, kemampuan menyesuaikan produksi dengan permintaan, serta menjaga identitas sebagai camilan yang sehat. Langkah-langkah tersebut akan menentukan sejauh mana Sahate mampu mempertahankan posisi dan terus berkembang di pasar internasional.























