Purbaya: Soemitronomics Pilar Ketahanan Ekonomi Indonesia

soemitronomics pilar - ilustrasi berita Purbaya: Soemitronomics Pilar Ketahanan Ekonomi Indonesia

Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Soemitronomics pilar dalam strategi ekonomi nasional untuk menghadapi guncangan global. Pernyataan itu disampaikan saat acara LPS Financial Literacy di Medan pada Rabu, 20 Agustus.

soemitronomics pilar - ilustrasi berita Purbaya: Soemitronomics Pilar Ketahanan Ekonomi Indonesia

Menurut Purbaya, pendekatan yang dipopulerkan Prof. Soemitro Djojohadikusumo sejak 1943—dikenal sebagai Trilogi Pembangunan: pertumbuhan, pemerataan, dan stabilitas—terbukti menjadi landasan penting ketika Indonesia melewati sejumlah krisis ekonomi.

Soemitronomics pilar dalam kebijakan

Dalam sambutannya, Purbaya memaparkan bahwa filosofi trilogi tersebut memberi kerangka untuk menjaga permintaan domestik sekaligus menyeimbangkan kebijakan makro. Pendekatan kearifan lokal itu, ujar dia, menjadi penopang dalam menyusun langkah kebijakan yang menitikberatkan pada stabilitas dan pemerataan pertumbuhan.

Pembelajaran dari krisis 1997–1998

Ia mengingatkan kontrast antara pengalaman krisis 1997–1998 dan kondisi pada periode berikutnya. Pada krisis akhir 1990-an, kebijakan yang mengandalkan suku bunga tinggi dan pengendalian uang beredar yang lemah justru memperburuk situasi, membuka ruang bagi spekulasi terhadap nilai tukar rupiah, dan meninggalkan dampak yang panjang bagi perekonomian domestik.

Peran Soemitronomics saat krisis 2008 dan pandemi

Purbaya menilai Indonesia mampu pulih lebih cepat dari guncangan ekonomi global pada 2008 serta selama pandemi Covid-19 berkat fokus pada permintaan domestik dan kebijakan likuiditas yang tepat. Ia menyatakan bahwa kombinasi dukungan permintaan internal dan penyesuaian kebijakan moneter memberi ruang bagi pemulihan yang lebih cepat dibandingkan krisis sebelumnya.

Target pertumbuhan 2026 dan andalan sektor riil

Mengenai target pemerintah mendorong pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada 2026, Purbaya menilai angka itu realistis. Kunci pencapaiannya, menurut dia, terletak pada penguatan sektor riil terutama di daerah-daerah, yang dapat menopang momentum pertumbuhan nasional.

Ia menekankan peran UMKM, pasar tradisional, lahan pertanian seperti sawah, serta sektor perkebunan dan pariwisata di Sumatera Utara sebagai kontribusi penting bagi ketahanan ekonomi. Penguatan pada level lokal dan wilayah, tutur Purbaya, mampu memperkokoh tuntutan domestik yang menjadi penyangga utama dalam menghadapi gejolak eksternal.

Implikasi bagi kebijakan dan pengawasan

Pernyataan Purbaya juga menyiratkan pentingnya koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang selaras dengan karakter ekonomi domestik. Pendekatan yang menempatkan stabilitas dan pemerataan sebagai prioritas dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar meniru resep kebijakan dari luar negeri tanpa mempertimbangkan konteks lokal.

Dalam konteks lembaga penjamin simpanan, penguatan literasi keuangan menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan sektor keuangan terhadap gejolak. Edukasi dan kebijakan yang proaktif, menurut Purbaya, mendukung stabilitas serta mendorong kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan nasional.

Uraian Purbaya memberikan gambaran bahwa memanfaatkan prinsip-prinsip Soemitronomics secara konsisten dapat membantu Indonesia menavigasi tantangan global tanpa mengorbankan stabilitas domestik. Pendekatan yang berakar pada trilogi pembangunan itu, kata dia, tetap relevan dalam merespons dinamika ekonomi saat ini.