Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja mengadakan metatah massal sebagai langkah meringankan beban ekonomi bagi ratusan umat Hindu. Kegiatan ini diikuti oleh 351 umat dan berlangsung di wilayah Singaraja, Bali.

Metatah massal: tujuan dan peserta
Metatah massal diselenggarakan dengan tujuan utama meringankan beban finansial keluarga yang hendak melaksanakan ritual potong gigi. Sebanyak 351 umat terdaftar sebagai peserta, yang berasal dari berbagai usia dan latar belakang keluarga. Keterlibatan angka tersebut menunjukkan skala kegiatan yang cukup besar bagi komunitas setempat.
Penyelenggaraan oleh IAHN Mpu Kuturan
IAHN Mpu Kuturan berperan sebagai penyelenggara utama acara ini. Sebagai institusi pendidikan keagamaan, kampus mengambil inisiatif menyediakan fasilitas dan koordinasi agar proses ritual dapat berjalan tertib. Langkah ini dipandang sebagai bentuk tanggung jawab sosial institusi terhadap pelestarian tradisi sekaligus mengurangi beban ekonomi umat.
Makna budaya dan sosial
Metatah, yang kerap disebut potong gigi dalam tradisi Bali, memiliki makna budaya yang penting bagi banyak keluarga. Penyelenggaraan secara massal membantu menjaga kelangsungan tradisi tersebut agar tetap dapat diakses oleh masyarakat luas tanpa terbentur biaya. Selain aspek ritual, kegiatan semacam ini juga memperlihatkan nilai gotong royong dan kepedulian antaranggota komunitas.
Pelaksanaan dan dukungan komunitas
Penyelenggaraan metatah massal melibatkan koordinasi berbagai pihak di lingkungan kampus dan komunitas lokal. Dukungan logistik dan pengaturan teknis menjadi bagian penting agar upacara dapat terlaksana dengan aman dan tertib. Keikutsertaan ratusan umat menunjukkan antusiasme masyarakat dalam memanfaatkan kesempatan yang disediakan untuk melaksanakan tradisi keluarga mereka.
Selain aspek teknis, inisiatif ini juga dipandang sebagai wahana edukasi budaya bagi generasi muda. Melalui kegiatan yang terorganisir, pemahaman mengenai nilai-nilai adat dan tata cara ritual dapat dipertahankan dan diwariskan secara lebih terstruktur.
Pelaksanaan metatah massal oleh institusi seperti IAHN Mpu Kuturan menegaskan peran lembaga pendidikan agama dalam merespons kebutuhan sosial dan budaya masyarakat. Dengan menyediakan fasilitas untuk 351 peserta, kampus mengambil langkah konkret yang berdampak langsung pada kesejahteraan umat serta kesinambungan tradisi setempat.
Ke depan, pelaksanaan kegiatan serupa dipandang penting sebagai salah satu upaya memastikan akses masyarakat terhadap pelaksanaan ritual adat tidak terhambat oleh kendala biaya. Inisiatif seperti ini juga membuka ruang dialog antara pihak akademis, pemuka adat, dan komunitas untuk merancang program yang berkelanjutan dan inklusif.













































