Bank Indonesia tengah mendorong integrasi QRIS untuk transaksi lintas negara, menjajaki kerja sama dengan beberapa otoritas di luar negeri. Upaya ini diarahkan untuk memperluas jaringan pembayaran crossborder yang dapat menghubungkan sistem pembayaran Indonesia dengan negara-negara mitra.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, menyampaikan bahwa pembahasan dengan India masih berlangsung, sementara dialog yang lebih mendalam sudah dimulai dengan otoritas di Arab Saudi dan Hong Kong. Pemerintah melalui bank sentral menilai langkah ini penting sebagai bagian dari pengembangan konektivitas pembayaran internasional.
Upaya Perluasan integrasi QRIS
Bank Indonesia menempatkan perluasan integrasi QRIS sebagai salah satu gerak strategis untuk memperkuat jaringan pembayaran lintas negara. Inisiatif ini bertujuan membuka opsi baru bagi pemegang rekening dan pelaku usaha untuk melakukan transaksi pembayaran antarnegara menggunakan mekanisme QR yang tersinkronisasi antar otoritas.
Pernyataan pejabat BI menekankan bahwa proses pembahasan tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga melibatkan negosiasi teknis dan koordinasi kebijakan dengan mitra. Meskipun detail teknis dan jadwal implementasi belum diumumkan, langkah awal berupa pembicaraan intensif telah dijalankan dengan beberapa negara prioritas.
Dialog dengan India Masih Berlanjut
Salah satu fokus utama adalah India, di mana diskusi seputar konektivitas pembayaran lintas batas disebut masih terus dilanjutkan. BI menyebut bahwa pembicaraan dengan otoritas India sedang dalam tahap pembahasan yang berkelanjutan, menandakan adanya komitmen kedua pihak untuk menelaah kemungkinan integrasi sistem pembayaran secara lebih rinci.
Dalam konteks ini, kedua pihak tampak mengedepankan pendekatan bertahap; pembahasan yang berlanjut menunjukkan adanya keseriusan namun juga kebutuhan untuk memastikan aspek teknis dan regulasi dapat diselaraskan sebelum implementasi lebih jauh.
Diskusi Awal dengan Arab Saudi dan Hong Kong
Selain India, Bank Indonesia juga telah memulai pembicaraan dengan otoritas di Arab Saudi dan Hong Kong. Menurut pernyataan yang disampaikan, diskusi dengan kedua yurisdiksi tersebut telah memasuki fase awal namun lebih mendalam dibanding tahap eksplorasi awal.
Memulai dialog dengan Arab Saudi dan Hong Kong mencerminkan upaya BI untuk memperluas cakupan kerja sama lintas negara ke beragam kawasan, termasuk Timur Tengah dan kawasan keuangan internasional di Asia. Tahap awal dialog ini menjadi pijakan bagi langkah-langkah lanjutan yang diperlukan untuk menyusun kerangka kerja sama teknis dan regulasi.
Langkah Selanjutnya dan Pendekatan Bertahap
Bank Indonesia menegaskan pendekatan yang berhati-hati dan bertahap dalam menjalin kerja sama lintas negara. Pembahasan yang sedang berlangsung menunjukkan adanya kebutuhan untuk menyelaraskan berbagai aspek, mulai dari mekanisme teknis hingga aspek kepatuhan dan perlindungan konsumen.
Filianingsih Hendarta mengisyaratkan bahwa BI akan terus melanjutkan komunikasi dengan mitra-mitra yang bersangkutan untuk merumuskan skema kerja sama yang memungkinkan interoperabilitas pembayaran. Proses ini dipandang sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk meningkatkan efisiensi dan kenyamanan transaksi lintas negara bagi pengguna dan pelaku usaha.
Implikasi Bagi Ekosistem Pembayaran
Pengembangan integrasi QRIS lintas negara berpotensi membuka peluang bagi pelaku usaha dan wisatawan untuk melakukan pembayaran dengan lebih mudah antar yurisdiksi. Sementara itu, bank sentral menekankan pentingnya memastikan semua aspek teknis, keamanan, dan regulasi telah dipertimbangkan sebelum implementasi dilakukan.
Bank Indonesia tetap fokus pada dialog yang konstruktif dengan negara-negara mitra untuk mengidentifikasi langkah-langkah operasional yang realistis. Meskipun belum ada pengumuman final terkait waktu pelaksanaan atau rincian teknis, inisiatif ini menandai langkah awal menuju konektivitas pembayaran yang lebih luas antara Indonesia dan beberapa negara mitra.





















