Java Coffee & Flavors Fest (JCFF) 2026 di Surabaya menutup rangkaiannya dengan capaian transaksi senilai Rp87 miliar. Penyelenggaraan festival ini kembali menempatkan fokus pada pengembangan hilirisasi kopi kakao sebagai langkah strategis memperluas akses produk lokal ke pasar global.

Dalam penutupan acara, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta serta Kepala Perwakilan BI Jatim Ibrahim menegaskan komitmen untuk memperkuat ekosistem kopi dan kakao lokal. Upaya ini dipandang penting mengingat potensi produksi kopi Jawa Timur yang tercatat mencapai 80.895 ton.
Percepatan hilirisasi kopi kakao jadi fokus utama
Para pemangku kepentingan yang hadir menyoroti perlunya mempercepat proses hilirisasi kopi dan kakao, yakni tahap pengolahan dan peningkatan nilai tambah sebelum produk dijual. Penekanan pada hilirisasi kopi kakao muncul sebagai respons terhadap tantangan memaksimalkan manfaat ekonomi dari komoditas unggulan kawasan, termasuk membuka peluang bagi pelaku usaha kecil menengah untuk masuk dalam rantai nilai yang lebih luas.
Komitmen pemerintah dan Bank Indonesia
Dalam pernyataannya, Gubernur dan perwakilan Bank Indonesia menegaskan dukungan terhadap upaya kolaboratif antara pemerintah daerah, perbankan, pelaku usaha, dan komunitas petani. Dukungan ini dinilai penting untuk memastikan kelancaran proses produksi, pengolahan, serta pemasaran yang memenuhi standar akses pasar internasional.
Dampak transaksi JCFF 2026 terhadap pelaku lokal
Nilai transaksi yang dicapai pada JCFF 2026 menjadi indikator minat pasar dan potensi komersialisasi produk kopi serta kakao bernilai tambah. Bagi para pelaku usaha lokal, event seperti ini selain mendorong penjualan juga berfungsi sebagai ajang pertemuan antara produsen, pembeli, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperluas jejaring bisnis.
Potensi produksi dan tantangan hilirisasi
Potensi produksi kopi Jawa Timur yang disebutkan mencapai 80.895 ton menempatkan provinsi ini sebagai pemain penting dalam rantai pasokan nasional. Namun, kapasitas produksi besar belum otomatis menghasilkan nilai tambah optimal jika hilirisasi belum berjalan efektif. Tantangan yang perlu diatasi meliputi peningkatan kualitas produk, standar pengolahan, akses pembiayaan, serta penguatan kemampuan pemasaran untuk menembus pasar internasional.
Peserta JCFF yang berasal dari berbagai lapisan industri kopi dan kakao juga memandang pentingnya transfer teknik pengolahan, pengemasan yang sesuai standar ekspor, dan jaminan mutu sebagai bagian dari agenda hilirisasi. Kolaborasi lintas sektor disebut-sebut menjadi kunci untuk mengatasi hambatan tersebut secara bertahap.
Langkah lanjutan menuju pasar global
Penekanan pada penguatan ekosistem bertujuan membangun tata kelola yang memungkinkan produk kopi dan kakao Jawa Timur tidak hanya bersaing di pasar domestik tetapi juga berpeluang menembus pasar internasional. Upaya ini meliputi peningkatan kapasitas produsen, pembinaan usaha mikro dan kecil, serta fasilitasi hubungan dagang dengan pembeli strategis.
Meski pencapaian transaksi sebesar Rp87 miliar menjadi hasil yang patut dicatat, para pengamat dan pelaku berharap bahwa momentum JCFF 2026 dapat diteruskan ke dalam program-program berkelanjutan. Hal tersebut diperlukan agar manfaat hilirisasi dapat dirasakan secara lebih luas oleh petani, pelaku usaha pengolahan, dan pihak-pihak yang terlibat dalam rantai nilai kopi dan kakao.
Penutupan acara di Surabaya menjadi titik awal konsolidasi bagi berbagai pihak untuk melanjutkan dialog dan tindakan nyata. Komitmen yang diungkapkan oleh Gubernur Khofifah bersama Deputi Gubernur BI serta Kepala Perwakilan BI Jatim memberi sinyal penting tentang arah kebijakan dan dukungan institusional yang diharapkan menguatkan posisi produk lokal di pasar global.



















