Dua akademisi perempuan dari Universitas Jember menyerukan langkah konkret di tingkat lokal sebagai respons terhadap kebijakan nasional tentang perubahan iklim. Seruan ini menegaskan perlunya menerjemahkan arahan pusat ke dalam praktik yang dapat dijalankan di wilayah masing-masing.

Mereka menegaskan bahwa “aksi iklim lokal” bukan sekadar slogan, melainkan langkah nyata yang harus melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, masyarakat, dan pihak lain yang berkepentingan. Menurut mereka, sinergi antarlembaga diperlukan agar kebijakan nasional memberi dampak nyata di lapangan.
Peran aksi iklim lokal dalam penerapan kebijakan
Dalam pandangan kedua akademisi tersebut, fokus pada aksi iklim lokal memungkinkan kebijakan besar di pusat diadaptasi sesuai kondisi daerah. Pendekatan ini menempatkan prioritas pada solusi yang kontekstual dan berkelanjutan, sehingga intervensi tidak hanya formal tetapi juga efektif bagi masyarakat setempat.
Mereka menilai bahwa tanpa langkah nyata di tingkat lokal, rencana yang disusun di level nasional berisiko berhenti pada sektor birokrasi dan tidak sampai ke praktik yang mengurangi kerentanan atau mengurangi emisi secara nyata.
Peran perguruan tinggi dan komunitas
Kedua akademisi menyoroti peran perguruan tinggi sebagai pusat pengetahuan dan sumber daya manusia yang dapat mendukung implementasi di daerah. Mereka melihat kampus sebagai mitra strategis untuk penelitian terapan, penguatan kapasitas, serta pendidikan publik terkait perubahan iklim.
Selain itu, keterlibatan komunitas lokal menjadi titik penting agar tindakan di lapangan sesuai dengan kebutuhan dan kearifan setempat. Keterlibatan ini juga dianggap penting untuk memastikan keberlanjutan inisiatif setelah dukungan awal berakhir.
Tantangan pelaksanaan di level daerah
Meski mendukung langkah lokal, kedua akademisi mengakui berbagai hambatan yang sering muncul, termasuk keterbatasan sumber daya, kapasitas teknis, serta koordinasi antarlembaga. Mereka menekankan pentingnya mengidentifikasi hambatan tersebut agar strategi penanganan bisa lebih tepat sasaran.
Pentingnya perencanaan yang realistis dan penguatan kapasitas di tingkat pemerintah daerah menjadi sorotan agar upaya yang disusun tidak hanya ambisius di atas kertas, tetapi juga dapat dilaksanakan secara bertahap dan berdampak.
Harapan terhadap kolaborasi dan tindak lanjut
Kedua akademisi berharap adanya kerja sama yang lebih erat antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan untuk menerjemahkan kebijakan nasional menjadi program kerja lokal. Mereka mengajak pemangku kepentingan untuk mengedepankan pendekatan kolaboratif agar sumber daya dan keahlian bisa saling melengkapi.
Mereka juga mengingatkan agar tindak lanjut disertai mekanisme evaluasi yang jelas, sehingga kemajuan dapat dipantau dan diperbaiki sesuai kebutuhan. Dengan demikian, pelaksanaan di tingkat lokal dapat menjadi contoh nyata bagaimana kebijakan nasional tentang perubahan iklim terwujud di lapangan.
Langkah komunikasi dan edukasi
Sebagai bagian dari upaya menguatkan aksi iklim lokal, kedua akademisi menyarankan agar komunikasi dan edukasi kepada publik diperkuat. Pendekatan ini dianggap penting untuk membangun pemahaman kolektif tentang urgensi perubahan iklim serta peran warga dalam mengurangi risiko dan beradaptasi.
Mereka mengajak semua pihak untuk melihat isu perubahan iklim sebagai isu bersama yang memerlukan respons berlapis, dimulai dari kebijakan hingga tindakan sehari-hari di komunitas.
Seruan dari dua akademisi perempuan Universitas Jember ini menempatkan perhatian pada bagaimana kebijakan nasional dapat diubah menjadi program konkret di tingkat lokal, dengan melibatkan berbagai pihak agar langkah yang diambil berdampak nyata dan berkelanjutan.
















